Thursday, January 22, 2026
Saturday, November 22, 2025
Nilai Qur’ani, Pendidikan Kuliner, dan Seni Mengelola Cost Control
Hikmah
di Dapur: Nilai Qur’ani, Pendidikan Kuliner, dan Seni Mengelola Cost Control
Di setiap dapur, rasa dan angka selalu berjalan
beriringan. Di balik satu piring hidangan yang cantik, tersimpan bukan hanya
kreativitas, tetapi juga perhitungan. Dan sebagai pengajar di Akademi Tata
Boga—khususnya pada mata kuliah Cost Control—saya semakin menyadari
bahwa mengelola biaya bukan sekadar soal rumus, angka, atau persentase. Ia
adalah latihan etika, tanggung jawab, dan kebijaksanaan.
Menariknya, nilai-nilai itu telah lama diajarkan
dalam Al-Qur’an. Dua bagian yang paling sering saya jadikan kompas dalam
mengajar adalah Surat An-Nahl ayat 125 dan Surat Luqman ayat 12–19.
Ketika nilai-nilai itu saya hubungkan dengan realitas dapur profesional dan
manajemen biaya, saya menemukan fondasi pembelajaran yang lebih manusiawi dan
bermakna.
Cost Control dalam Cahaya
Kebijaksanaan Qur’ani
Mengajar dengan Hikmah – QS.
An-Nahl 16:125
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang paling
baik..."
Ayat ini seperti pedoman pedagogi untuk para
pendidik, termasuk yang mengajar di dapur.
1. Hikmah dalam Mengajarkan
Perhitungan Cost
Setiap mahasiswa memiliki ritme belajarnya sendiri.
Ada yang cepat memahami yield percentage, ada yang butuh waktu lebih lama untuk
mengkonversi AP (As Purchased) ke EP (Edible Portion).
Hikmah berarti memilih cara yang tepat, waktu yang tepat, dan kata yang tepat
saat membimbing atau mengoreksi.
2. Mau‘izhah Hasanah dalam
Disiplin Food Cost
Nasihat yang baik bukan hanya berupa teori—tetapi
contoh nyata.
Misalnya:
- Mengapa
teknik trimming memengaruhi food cost?
- Mengapa
tulang ayam seharusnya dimanfaatkan untuk kaldu, bukan dibuang?
- Mengapa
timbangan harus akurat sampai gram terkecil?
Di dapur, pelajaran yang baik selalu datang
dari kebiasaan yang benar.
3. Dialog dalam Menu Planning
dan Budgeting
Cost control bukan hanya perhitungan; ia adalah
proses berpikir. Mahasiswa harus berdiskusi tentang menu, menguji ide, dan
bernegosiasi antara kreativitas dan biaya.
Pendekatan cara yang paling baik menciptakan ruang aman bagi mereka
untuk bertanya, mencoba, dan berani berpendapat.
Nasihat Luqman dan Etika dalam
Cost Control
Surat Luqman adalah pelajaran karakter yang sangat
relevan dalam dunia kuliner.
1. Syukur dan Apresiasi terhadap
Bahan
Cost control dimulai dari rasa syukur. Ketika
mahasiswa menghargai bahan—dari daun basil hingga ikan segar—mereka secara
alami menghindari pemborosan. Syukur menumbuhkan kehati-hatian.
2. Tanggung Jawab dalam Setiap
Gram dan Setiap Rupiah
Ayat 16 menyinggung tanggung jawab sekecil biji
sawi.
Dalam cost control, biji sawi itu bisa berupa:
- 5 gram
mentega yang terbuang
- 10 ml
minyak berlebih saat menumis
- yield
yang salah hitung 1%
Hal kecil dapat menjadi beban besar bagi bisnis.
3. Rendah Hati dalam Belajar
Teknik dan Angka
Luqman menasihati anaknya agar tidak sombong.
Dalam kuliner, rendah hati berarti:
- mau
mengulang perhitungan,
- mau
memperbaiki teknik potong,
- mau
menerima masukan,
- mau
mengakui kesalahan.
Karakter baik melahirkan akurasi.
Ketika Seni Kuliner Bertemu
Manajemen Biaya
Cost control sering dianggap sisi “kaku” dari dunia
kuliner. Padahal ia adalah tulang punggung dapur profesional.
Ketika mahasiswa memahami cost, mereka belajar tentang:
✔ menghargai bahan
✔ menghargai tenaga kerja
✔ menjaga kelangsungan usaha
Dengan nilai Qur’ani, cost control menjadi lebih
dari sekadar manajemen—ia menjadi latihan integritas.
Refleksi Saya Sebagai Pengajar
Saat mengajar cost control, saya selalu mengingatkan
mahasiswa: Seorang chef bukan hanya seniman rasa, tetapi penjaga amanah
bahan dan biaya.
Angka tidak pernah berdusta; ia bercerita tentang kedisiplinan seseorang
mengelola dapur.
Ketika hikmah dari Surat An-Nahl dipadukan dengan
etika dari Surat Luqman, kelas saya tidak hanya menjadi tempat belajar
menghitung food cost—tetapi ruang pembentukan diri.
Saya sering bertanya pada mahasiswa:
- Apa
nilai yang kamu gunakan saat mengolah hidangan ini?
- Apakah
kamu membuang sesuatu yang seharusnya bisa dimanfaatkan?
- Apakah
kamu bekerja dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab?
Di momen itu, dapur menjadi ruang spiritual—tempat rasa, angka, dan karakter bertemu.
Penutup: Cost Control dengan
Hati dan Kebijaksanaan
Cost control bukan hanya tentang mengendalikan
biaya. Ia tentang kesadaran, kedisiplinan, dan rasa syukur.
Dengan nilai Qur’ani sebagai fondasi, mahasiswa belajar bahwa setiap gram
berarti, setiap keputusan berdampak, dan setiap tindakan mencerminkan karakter.
Dalam semangat Learn, Teach and Share
masakan yang baik lahir dari hati yang baik, dan cost control yang baik
lahir dari kesadaran yang penuh makna.
Friday, November 7, 2025
Inovasi Produk Harus Dilakukan oleh Chef Belajar dari Buku Rhenald Kasali – Re-Code Your Change DNA (2007)
Pendahuluan
Industri kuliner tidak lagi sekadar tentang rasa yang enak, tetapi tentang kemampuan beradaptasi terhadap perubahan selera, gaya hidup, dan teknologi. Di tengah kompetisi ketat, keberhasilan sebuah rumah makan tidak hanya ditentukan oleh resep warisan, tetapi juga oleh kemampuan tim dapur terutama Chef untuk melakukan inovasi produk secara berkelanjutan.
Pandangan ini sejalan dengan gagasan Rhenald Kasali dalam bukunya Re-Code Your Change DNA (2007), yang menekankan pentingnya perubahan cara berpikir (re-code) agar seseorang dan organisasi tidak terjebak pada rutinitas masa lalu. Dalam konteks rumah makan, chef bukan hanya pelaksana resep, melainkan agen perubahan yang menentukan arah evolusi cita rasa dan nilai jual produk.
Mengapa Inovasi Produk Menjadi Kebutuhan
Rhenald Kasali menulis bahwa “Perubahan adalah sesuatu yang pasti, dan mereka yang tidak siap akan tertinggal.”
Dalam dunia kuliner, perubahan ini bisa datang dari:
- Perubahan selera konsumen, seperti tren makanan sehat, organik, atau berbasis tanaman.
- Perkembangan teknologi dapur, seperti penggunaan sous-vide, smart oven, atau aplikasi recipe management.
- Persaingan harga dan konsep restoran baru, yang menuntut efisiensi sekaligus kreativitas.
Chef sebagai Agen Perubahan (Re-Code the Leader)
Dalam subjudul “Re-Code the Leader”, Rhenald Kasali menekankan bahwa pemimpin sejati bukan hanya orang yang memiliki jabatan, tetapi yang mampu menginspirasi dan menggerakkan perubahan.
Di dapur, chef adalah pemimpin perubahan itu sendiri. Ia bertanggung jawab tidak hanya pada cita rasa, tetapi juga pada efisiensi biaya dan kepuasan pelanggan.
Chef yang memiliki semangat inovasi:
- Menyadari bahwa resep bukan dogma, melainkan alat yang bisa dikembangkan.
- Mendorong tim dapur untuk melakukan eksperimen terukur.
- Menghubungkan nilai tradisi dengan modernitas, misalnya memodifikasi menu lokal menjadi sajian berkelas restoran modern.
Prinsip Perubahan: Vision, Skills, Incentives, Resources, Action Plan
Rhenald Kasali menjelaskan bahwa perubahan hanya dapat berhasil jika didukung oleh lima unsur penting:
Bentuk Inovasi Produk yang Bisa Dilakukan Chef
- Inovasi Cita Rasa: Menggabungkan unsur lokal dan global, seperti “Sop Konro Fusion” dengan teknik sous-vide atau bumbu rempah yang lebih seimbang.
- Inovasi Tampilan: Membuat plating yang menarik dan instagramable tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.
- Inovasi Bahan: Mengganti bahan mahal dengan bahan lokal yang lebih ekonomis namun tetap berkualitas. Dampak langsung: menurunkan food cost tanpa menurunkan nilai rasa.
- Inovasi Proses Produksi: Menggunakan sistem batch cooking, portion control, dan pre-prep system agar lebih efisien.
- Inovasi Nilai Jual (Value Creation): Menambahkan cerita di balik menu — seperti filosofi, asal daerah, atau nilai budaya — yang membuat pelanggan merasa terhubung secara emosional dengan hidangan.
Inovasi yang dilakukan oleh chef berdampak langsung pada:
- Peningkatan daya saing rumah makan.
- Peningkatan kepuasan pelanggan dan loyalitas.
- Efisiensi biaya produksi dan pengendalian food cost.
- Citra positif merek restoran sebagai tempat makan yang selalu segar dan dinamis.
Kesimpulan
Chef masa kini tidak cukup hanya menjadi penjaga resep, tetapi harus menjadi arsitek perubahan.
Mereka adalah “pemimpin dapur” yang mengubah ide menjadi nilai, dan nilai menjadi profit.
Sebagaimana pesan Rhenald Kasali:
“Perubahan bukanlah ancaman, melainkan peluang bagi mereka yang mau belajar dan beradaptasi.”
Dengan semangat re-code, chef mampu mengubah dapur rumah makan menjadi laboratorium inovasi kuliner tempat di mana tradisi, kreativitas, dan efisiensi bersatu menciptakan masa depan kuliner Indonesia yang lebih unggul.
Referensi
- Kasali, Rhenald. (2007). Re-Code Your Change DNA: Mengubah Paradigma dan Membangun Kekuatan Perubahan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Walker, John R. (2021). Introduction to Hospitality Management. Pearson.
- Kasavana, M. L., & Smith, D. I. (2016). Menu Engineering and Cost Control for Hospitality Managers. AHLEI.
- Marsum, W. (2019). Manajemen Operasional Restoran dan Katering. Gadjah Mada University Press.
- Pratama, H. (2022). Inovasi Menu dan Pengendalian Biaya Usaha Kuliner. Deepublish, Yogyakarta.
Friday, October 31, 2025
CATATAN DARI DAPUR HOTEL
CATATAN DARI DAPUR HOTEL
Dalam dunia
restoran dan hotel, keberhasilan bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang
bagaimana dapur dikelola oleh orang-orang yang terampil, disiplin, dan punya
semangat belajar tinggi.
Dan dari sinilah kisah catatan mendampingi
mahasiswa vokasi dimulai dari sebuah kolaborasi antara dunia pendidikan
dan industri kuliner.
Catatan dari kampus ke dapur hotel
Empat
mahasiswa dari program kuliner dan pastry melaksanakan Praktik Kerja Lapangan
(PKL) di salah satu hotel berbintang di Bandung.
Mereka datang bukan hanya untuk bekerja, tapi untuk belajar cara berpikir dan
bekerja layaknya seorang profesional.
Selama enam
bulan, dapur hotel menjadi ruang belajar yang sesungguhnya tempat teori bertemu
kenyataan.
Di sana, mahasiswa belajar tentang konsistensi rasa, manajemen waktu,
komunikasi tim, dan tanggung jawab terhadap hasil kerja.
Catatan perjalanan kujungan
Sebagai
pembimbing dari kampus, saya diwajibkan melakukan kunjungan resmi ke lokasi
PKL.
Tujuannya bukan hanya memantau, tetapi juga menjembatani komunikasi antara
pihak industri dan lembaga pendidikan.l.
Kunjungan menjadi momen refleksi: bagaimana mereka berkembang, apa yang bisa
ditingkatkan, dan bagaimana pihak hotel menilai sikap serta kinerja mereka.
Menariknya,
kHRD dan supervisor hotel yang
mengatakan bahwa mahasiswa dari program vokasi bukan hanya cepat belajar, tapi
juga membawa energi baru ke dapur.
Ada ide, ada semangat, dan ada keberanian untuk mencoba.
Catatan untuk dapur hotel
Bagi pihak
hotel atau restoran, keberadaan mahasiswa PKL bukan sekadar kewajiban sosial.
Justru, ini menjadi kesempatan untuk:
- Mengenalkan standar kerja dan budaya
dapur profesional,
- Mengasah calon tenaga kerja agar siap
terjun ke industri,
- Menjalin kemitraan jangka panjang dengan
lembaga pendidikan vokasi,
- Bahkan menemukan talenta muda yang bisa
direkrut setelah lulus.
Dengan kata lain, PKL bukan hanya tentang belajar tapi juga investasi SDM jangka panjang.
Catatan dari hasil dapur hotel
Setelah PKL
selesai, mahasiswa kembali ke kampus untuk menyusun laporan dan seminar hasil
PKL.Tapi bukan seminar biasa. Mereka juga menampilkan produk hasil belajar
selama di hotel mulai dari pastry klasik
hingga menu hot kitchen yang elegan.
seorang penguji, dosen dosen yang hadir dan saya sebagai pembimbing menilai bukan hanya hasil akhirnya, tapi juga
proses berpikir, inovasi, dan keberanian mereka berkreasi.
Setiap produk dan plating cantik adalah bukti bahwa mereka telah tumbuh menjadi
calon profesional sejati.
Catatan Pembimbing lapangan
Sebagai
seseorang yang lama berkecimpung di dunia restoran, saya percaya:
“Keberhasilan dapur bukan hanya ditentukan oleh resep, tapi oleh manusia yang bekerja di dalamnya.”
Mahasiswa
PKL yang tekun, terbuka terhadap kritik, dan mau belajar akan menjadi aset
berharga di masa depan.
Dan bagi industri, membuka pintu bagi mereka berarti ikut menjaga keberlanjutan
dunia kuliner Indonesia.
Catatan Penutup
Kolaborasi
antara kampus vokasi dan dunia industri seperti hotel dan restoran bukan
sekadar rutinitas akademik — tetapi bentuk nyata dari learning by doing
yang sesungguhnya.
Dari dapur hotel, kita belajar bahwa disiplin, kerja tim, dan cinta pada
profesi adalah bumbu utama menuju kesuksesan.
Suryana September 2025
Monday, July 21, 2025
Desember '83
Desember'83
Oleh : Suryana
Waktu itu hari Kamis tanggal 22
Desemeber 1983, saya menerima surat melalui petugas desa, waktu itu surat yang dikirim melalui
kantor pos tidak langsung ke Alamat rumah, tapi melalui desa, betapa senangnya
waktu itu saya menerima surat yang
isinya panggilan untuk wawancara, surat yang ditunggu tunggu sejak saya
menyampaikan surat lamaran kurang lebih dua minggu yang lalu.
Hari jum’at ini saya bangun lebih pagi dari
biasanya, padahal semalam sangat susah tidur yang berkacamuk dalam pikiran
saya,
Siapa yang akan mewawancarai saya?
Apa yang akan ditanyakan?
Apa saya akan dterima sebagai Karyawan?
Kalau diterima bagian apa? Bagaimana kerjanya
Kalau tidak diterima? Kemana lagi harus melamar?
Dengan mengenakan kemeja putih
celana hitam, dengan Sepatu cat yang biasa dipakai ketika ke sekolah, Setelah pamit pada orang tua, Abah dan Ema mengatar dengan senyum dan doa
dari wajahnya bangga penuh harap.
Perjalanan menuju Rumah Makan Ponyo Malabar yang berlokasi di Jl. Malabar
No, 60 waktu itu merupakan kantor pusat , jarak dari rumah di kampung Babakan
Sukamulya Desa Cinunuk Kecamatan Cileunyi kabupaten Bandung kurang lebih 16 KM,
ditempuh dengan dua kali naik angkot.
Sesampainya di kantor saya dipersilahkan masuk oleh
sekretaris ( Belakangan saya ketahui nama sekretaris itu adalah Ibu Imas Nur
Sutisna) dan saya dipersilahkan duduk untuk menunggu, dan ketika
melihat jam di dinding ternyata baru jam 7.15 sementara surat panggilan jam
08.00, Ketika itu saya menduga harus
menunggu kurang lebih 45 menit, tapi ternyata tidak demikian, hanya kurang
lebih 10 menit saya menunggu dari dalam ruangan muncul seorang Bapa bapa
membawa map warna biru yang saya sampaikan dua minggu yang lalu, belakangan
diketahui beliau adalah H, Dudi Suganda Nandang merupakan Owner Rumah Makan Ponyo dan
Owner Agen Penyalur koran dan majalah Aneka Agency.
Ketika beliau mendekat, dengan agak gugup saya menyapa
“Assalamu’alaikum,”
Wa’alaikumslm beliau menjawab.
Sembari membuka
map warna biru yang berisi data lamaran saya, beliau bertanya siapa nama?.
Saya menjawab agak Gemetar “
Suryana pa”
Setelah itu beliau bertanya Pendidikan, pengalaman, keluarga, dan motivasi saya bekerja di Rumah makan.
Selebihnya beliau memberikan nasihat dan gambaran tentang keberadaan RM, Ponyo
serta bagian bagian yang ada di rumah makan tugas dan tanggung jawab masing
masing bagian.
“ Walaupun saudara lulusan SMA tapi sekarang tidak ada lowongan dibagian lain
yang ada hanya dibagian cuci, apakah siap ditempatkan dibagian cuci?”
“Alhamdulillah, Bissmillah siap pa” saya menjawab tanpa ragu, saya sangat
bersyukur sudah diterima bekerja. Dengan
spontan saya raih tangan beliau “Jazakumulloh
Khoiron Katsiron”
Dan beliau menutup nasihatnya dengan sebuah kalimat yang masya
Alloh tidak kan saya lupa "Dibagian
manapun nanti ditempatkan Suryana harus
professional dan harus diingat bahwa bekerja itu bukan hanya mencari nafkah
jadikan bekerja itu sebagai ibadah”
Dan yang sangat tekesan diakhir
nasihat beliau tidak menyebut saya dengan kata “kamu “, “saudara” atau “anda”,
beliau menasihat dengan menyebut nama saya “ Suryana”, suatu kebanggaan bagi
saya saya sepertinya sudah menjadi bagian dari Perusahaan Rumah Makan Ponyo
“Surat lamaran ini sudah bapa
setujui, silahkan hari ini datang ke Ponyo Cinunuk sampaikan surat lamaran ini ke
Bapak Aa Kanwa Pimpinan Cabang Rumah
makan Ponyo Cinunuk”
setelah pamitan saya keluar dari kantor serasa
mimpi, betapa tidak setidaknya saya akan mendapat menambah ilmu,
menambah teman dan yang pasti kedua orang tua pasti akan senang.
Hari itu saya langsung menuju RM
Ponyo Cinunuk, yang berjarak 500 meter apabila ditempuh dari rumah. Setelah
mendapat pengarahan dari Bapa Aa Kanwa Manager Rumah Makan Ponyo Cinunuk waktu itu, saya
dipersilahkan mulai kerja besok hari Sabtu tanggal 24 Desember 1983
Tanggal 24 Desember 1983 akan selalu
saya kenang sebagai hari pertama saya resmi memasuki dunia kerja. sebagai karyawan training di sebuah rumah makan ternama di
Bandung, Rumah Makan (RM) Ponyo.
Saya sangat bersyukur. Di tengah
persaingan kerja yang ketat, bisa diterima bekerja di Rumah Makan Ponyo adalah anugerah
besar bagi saya. Saya langsung ditempatkan di dapur sebagai bagian cuci
piring, posisi yang mungkin dianggap kecil oleh sebagian orang, tapi bagi saya
saat itu, adalah sebuah langkah awal yang membanggakan.
RM Ponyo waktu itu sudah memiliki empat cabang:
- RM Ponyo Eijkman di Jl. Prof. Eijkman, Bandung
- RM. Ponyo Cinunuk di Jl. Raya Cinunuk no. 186 Kabupaten Bandung
- RM Ponyo Malabar di Jl. Malabar No. 60, Bandung
- RM Ponyo Cimacan di Jl Puncak Cianjur
Saya ditempatkan di cabang utama, RM Ponyo Cinunuk. Di sanalah saya mulai mengenal kerasnya dunia dapur, tumpukan piring kotor, air sabun yang mengalir, panasnya area masak, dan ramainya pesanan dari waiter karna banyaknya order dari pelayan yang tak pernah henti. Saya merasa bahagia. Saya senang dapat pekerjaan, belajar tentang disiplin dan kerja keras.
Cerita ini bukan sekadar nostalgia. Ini adalah bukti bahwa dari bagian cuci piring sekalipun, asal kita serius dan profesional, Allah SWT akan membukakan
jalan yang luar biasa. (bersambung)

